Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 79,24 poin atau 1,33% ke level 5.863,78.
Penurunan tersebut terjadi di tengah aktivitas pembelian bersih oleh investor asing yang mencapai Rp567,96 miliar di seluruh pasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa arus dana asing yang masuk belum mampu mengimbangi tekanan penjualan yang melanda sebagian besar saham di bursa.
Sepanjang perdagangan, mayoritas saham mengalami penurunan harga dan seluruh sektor yang tercatat di BEI berakhir di zona merah. Pelemahan paling besar terjadi pada sektor barang konsumsi nonprimer dan energi.
Investor Asing Tetap Melakukan Pembelian di Tengah Pelemahan IHSG
Meskipun pasar saham Indonesia mengalami koreksi, investor asing masih membukukan pembelian bersih atau net buy dengan nilai yang cukup besar.
Secara keseluruhan, nilai pembelian bersih investor asing mencapai Rp567,96 miliar. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp520,03 miliar berasal dari transaksi di pasar reguler, sedangkan Rp47,93 miliar tercatat melalui pasar tunai dan pasar negosiasi.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan nilai pembelian bersih investor asing terbesar, yakni mencapai Rp286,1 miliar.
Posisi berikutnya ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan pembelian bersih Rp90,7 miliar, disusul PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebesar Rp72,3 miliar.
Di sisi lain, sejumlah saham juga mengalami tekanan penjualan dari investor asing. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatat penjualan bersih terbesar sebesar Rp39,2 miliar.
Selanjutnya, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mengalami penjualan bersih Rp34,2 miliar, sedangkan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat penjualan bersih Rp33,8 miliar.
Perbedaan arah transaksi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas investor asing tidak berlangsung merata pada seluruh saham. Sejumlah emiten masih menarik minat pembelian, sementara saham lainnya menghadapi tekanan penjualan.
Pergerakan Saham LQ45: AMMN Menguat, DEWA Mengalami Penurunan Terbesar
Di tengah pelemahan pasar secara keseluruhan, beberapa saham yang tergabung dalam indeks LQ45 masih mampu mencatatkan penguatan.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi salah satu saham dengan kinerja terbaik setelah menguat 1,39% pada perdagangan hari ini.
Penguatan juga dicatatkan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 1,28%, diikuti PT United Tractors Tbk (UNTR) yang mengalami kenaikan 1%.
Namun, sejumlah saham LQ45 lainnya justru mengalami koreksi cukup dalam.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatat penurunan terbesar di antara saham-saham yang disebutkan, dengan pelemahan mencapai 7,88%.
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menyusul dengan penurunan 6,40%, sedangkan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melemah sebesar 5,84%.
Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan bahwa meskipun IHSG berada dalam tekanan, peluang penguatan tetap terjadi pada sejumlah saham tertentu. Namun, tekanan penjualan masih mendominasi perdagangan secara keseluruhan.
Seluruh Sektor Saham Melemah, Konsumsi Nonprimer dan Energi Paling Tertekan
Pelemahan IHSG turut diikuti oleh seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia. Tidak ada satu pun sektor yang berhasil menutup perdagangan di zona positif pada Kamis (15/10/2026).
Sektor barang konsumsi nonprimer mencatatkan penurunan terdalam sebesar 3,20%, menjadikannya sektor dengan kinerja harian terlemah.
Sektor energi berada di posisi berikutnya dengan pelemahan 3%, disusul sektor perindustrian yang terkoreksi 2,43% dan infrastruktur yang turun 2,41%.
Tekanan juga dialami sektor transportasi dan logistik dengan penurunan 2,06%. Sementara itu, sektor barang baku melemah 1,68% dan sektor properti serta real estat turun 1,41%.
Sektor teknologi mencatatkan koreksi 1,29%, diikuti sektor barang konsumsi primer sebesar 1,14%.
Adapun sektor keuangan mengalami pelemahan yang relatif lebih terbatas sebesar 0,64%, sedangkan sektor kesehatan menjadi sektor dengan penurunan paling kecil, yakni 0,15%.
Kondisi tersebut mencerminkan tekanan pasar yang meluas ke berbagai kelompok industri, bukan hanya terkonsentrasi pada satu atau dua sektor tertentu.
Mayoritas Saham Turun, Nilai Transaksi Bursa Mencapai Rp13,53 Triliun
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia tetap berlangsung dengan volume transaksi yang cukup besar meskipun indeks utama mengalami penurunan.
Sepanjang perdagangan Kamis (15/10/2026), total volume transaksi mencapai 35,25 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,53 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 567 saham ditutup melemah, sedangkan hanya 108 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan harga.
Sementara itu, sebanyak 120 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau ditutup stagnan.
Jumlah saham yang mengalami penurunan jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan penjualan terjadi secara luas di pasar saham Indonesia.
Meskipun investor asing membukukan pembelian bersih, kondisi tersebut belum cukup untuk mendorong pemulihan indeks pada akhir perdagangan.
IHSG Turun 2,78% dalam Sepekan dan Melemah 32,19% Sejak Awal Tahun
Pelemahan pada perdagangan Kamis turut memperpanjang tekanan terhadap kinerja pasar saham Indonesia dalam beberapa periode terakhir.
Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat mengalami penurunan kumulatif sebesar 2,78%.
Sementara itu, jika dihitung sejak awal tahun atau year-to-date (YTD), indeks telah kehilangan 32,19% dari nilainya.
Penurunan tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi pasar saham domestik sepanjang tahun 2026, terutama dalam mempertahankan kestabilan indeks di tengah perubahan sentimen investor.
Pergerakan IHSG dalam beberapa waktu mendatang masih perlu dicermati dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi domestik, perkembangan pasar keuangan global, serta arah transaksi investor.
Investor Perlu Mencermati Pergerakan Pasar Selanjutnya
Penutupan IHSG pada level 5.863,78 memperlihatkan bahwa tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026.
Di satu sisi, pembelian bersih investor asing sebesar Rp567,96 miliar menjadi salah satu perkembangan yang menarik untuk diperhatikan. Namun, di sisi lain, penurunan harga pada ratusan saham menunjukkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya mereda.
Pergerakan saham perbankan, energi, serta sektor-sektor yang mengalami koreksi besar dapat menjadi bagian dari indikator yang diamati untuk memahami perubahan kondisi pasar.
Pelaku pasar juga perlu memperhatikan perkembangan ekonomi, kebijakan moneter, serta informasi kinerja perusahaan yang dapat memengaruhi keputusan investasi.
Dengan kondisi pasar yang masih berfluktuasi, evaluasi berdasarkan data dan pengelolaan risiko menjadi penting sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber: Kontan – IHSG Merosot 1,33% Menjadi 5.864 Meski Ada Net Buy Asing, 15 Oktober 2026.

/2025/08/19/1666377475.jpg)