Amersfoort, Belanda – Indonesia terus memperluas langkah diplomasi budaya melalui pengenalan Pencak Silat di tingkat internasional. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pentingnya memperkuat eksistensi seni bela diri tradisional Indonesia di dunia, termasuk mendukung upaya agar Pencak Silat dapat dipertandingkan dalam ajang Olimpiade.
Komitmen tersebut disampaikan dalam pembukaan 1st International Pencak Silat Culture & Heritage Festival yang berlangsung di Amersfoort, Belanda, pada Sabtu (10/10/2026). Festival ini menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas Pencak Silat di berbagai negara.
Pencak Silat sebagai Identitas Budaya Indonesia
Dalam sambutannya, Fadli Zon menekankan bahwa Pencak Silat bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai filosofis, seni, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Indonesia.
Tradisi Pencak Silat telah memperoleh pengakuan internasional setelah resmi masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2019. Pengakuan tersebut memperkuat kedudukannya sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat dunia.
Fadli Zon juga mengungkapkan bahwa Kementerian Kebudayaan telah mencatat sebanyak 3.277 elemen Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kekayaan tersebut mencerminkan keberagaman tradisi yang berkembang di berbagai daerah Nusantara, termasuk beragam aliran dan perguruan Pencak Silat.
Menurutnya, keberlangsungan Pencak Silat sangat bergantung pada peran para maestro, pelatih, praktisi, serta komunitas budaya yang secara konsisten mewariskan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi berikutnya.
Festival Internasional Perkenalkan Pencak Silat Nusantara
Festival yang diselenggarakan pada 10–11 Oktober 2026 ini diinisiasi oleh Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF) atau Federasi Pencak Silat Belanda.
Berbagai kegiatan digelar selama festival, mulai dari pertunjukan seni budaya, demonstrasi bela diri, lokakarya, hingga pelatihan bersama yang mempertemukan praktisi Pencak Silat Indonesia dengan komunitas pesilat di Belanda.
Tiga kelompok Pencak Silat dari Indonesia turut berpartisipasi, yaitu Panglipur Indonesia dari Jawa Barat, Harimau Singgalang dari Sumatera Barat, serta Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun dari Jawa Timur.
Ketiga delegasi tersebut menghadirkan keunikan teknik, gerakan, serta nilai budaya dari daerah masing-masing. Kehadiran mereka sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dengan para praktisi Pencak Silat di Eropa.
Acara ini juga dihadiri Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, L. Amrih Jinangkung, serta Presiden NPSF, Olivier Blancquaert.
Belanda Menjadi Pintu Pengembangan Pencak Silat di Eropa
Fadli Zon menilai Belanda memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan Pencak Silat kepada masyarakat Eropa. Perkembangan komunitas bela diri tradisional Indonesia di negara tersebut menunjukkan bahwa Pencak Silat memiliki daya tarik yang semakin luas.
Saat ini, Federasi Pencak Silat Belanda menaungi sekitar 50 perguruan dengan lebih dari 700 praktisi yang telah terdaftar.
Perkembangan tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Kebudayaan. Ia memandang keterlibatan masyarakat internasional dalam mempelajari dan melestarikan Pencak Silat sebagai bentuk nyata diplomasi budaya yang dibangun melalui hubungan antarmasyarakat.
Melalui interaksi tersebut, Pencak Silat tidak hanya dikenal sebagai keterampilan bela diri, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan nilai kedisiplinan, penghormatan, persaudaraan, dan kekayaan tradisi Indonesia.
Indonesia Dorong Pencak Silat Masuk Olimpiade
Selain memperluas pengenalan budaya, pemerintah Indonesia juga memiliki aspirasi untuk menjadikan Pencak Silat sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade.
Fadli Zon menyampaikan bahwa tujuan tersebut membutuhkan dukungan internasional, terutama melalui pengembangan organisasi, peningkatan partisipasi atlet, serta perluasan komunitas Pencak Silat di berbagai negara.
Aspirasi ini juga sejalan dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pengembangan Pencak Silat sebagai olahraga yang mampu bersaing di tingkat dunia.
Meski demikian, pengembangan Pencak Silat sebagai cabang olahraga internasional tetap perlu berjalan beriringan dengan upaya pelestarian nilai budaya dan tradisi yang menjadi dasar pembentukannya.
Dengan semakin banyaknya negara yang mengenal dan mengembangkan Pencak Silat, peluang untuk memperluas pengakuan olahraga tersebut di tingkat internasional diharapkan semakin terbuka.
Dukungan Pemerintah untuk Pelestarian Budaya
Kementerian Kebudayaan turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan festival melalui Dana Indonesia Raya, sebuah skema pendanaan kebudayaan yang ditujukan untuk memperkuat pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya nasional.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi seniman, maestro, pelatih, serta komunitas budaya dalam meningkatkan kapasitas, memperluas jaringan internasional, dan memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada masyarakat global.
Fadli Zon berharap penyelenggaraan festival internasional ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan antara komunitas Pencak Silat Indonesia dan Belanda.
Melalui kolaborasi yang semakin erat, Pencak Silat diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai warisan budaya Indonesia yang mendunia sekaligus menjadi jembatan persahabatan antarbangsa.
Festival perdana di Amersfoort ini menjadi salah satu langkah penting dalam memperluas jangkauan budaya Nusantara dan memperkuat aspirasi Indonesia untuk membawa Pencak Silat menuju panggung olahraga dunia.

